MEMBANGUN SISTEM TERPADU BIMBINGAN-KONSELING BERBASIS MANAJEMEN KARAKTER TERAPAN – Virtual Learning , tanggal 9 – 14 Nopember 2020

Daftar sekarang, tempat sangat terbatas :
https://bit.ly/2FVxiiU
Konfirmasi wa :
(+62) 812-1984-9996 (IC7 Academy)

Join Grup Whats App : https://chat.whatsapp.com/HU2ahMEoL9B2H3p6MrqelI

FUNGSI AFIRMASI SEORANG AYAH – Santoso S. Hutabarat, S.Si, CBC,CLS (HCCM Consultant)

Peran Ayah Sebagai Mentor 

Human Capital Character Management Consultant

Hampir setiap masalah sosial besar yang dihadapi saat ini semua terkait dengan ketiadaan Ayah. Kriminalitas, narkoba, alkohol, kehamilan remaja, bunuh diri – semua terkait kepada ketiadaan Ayah lebih dari pada faktor yang lain (Stephen Baskerille, Universitas Hiward). Fenomena umum ini terjadi hampir di berbagai Negara. Tentu hal ini sangat berdampak besar bagi kelangsungan hidup generasi muda. Fakta : Buku “Raising A Modern-Day Knight” – Robert Lewis (Data Statistik USA) menyebutkan 90 % pria melakukan segala bentuk kekerasan, 100% pria bertanggung jawab dalam pemerkosaan, 95% pria melakukan pencurian , 91% pria melakukan penyerangan kepada keluarganya, 94% pria adalah pengendara yang mabuk. Arti ketiadaan Ayah tidak selalu berarti ketiadaan secara fisik seperti kehadirannya di hadapan anak atau keluarga, tetapi jauh lebih berarti kepada ketidakberfungsian seorang Ayah bagi anak-anaknya (secara spiritual, jiwani dan jasmani).

Dalam periode tahun 1960-1980, lahir satu gerakan besar di dunia yang disebut Gerakan yang melahirkan Generasi Baby Buster (dikenal sebagai Generasi X- judul novel Douglas Coupland. “X” merujuk kepada kumpulan yang terpinggir dalam masyarakat walaupun mereka mendapat pendidikan yang lebih baik berbanding “The baby boom”.). Generasi ini ada akibat antiklimaks  dari generasi baby boom yang ditandai dengan angka kelahiran di Amerika Serikat turun dengan mendadak. Beberapa karakteristik Generasi  X adalah legalisasi aborsi, angka perceraian meningkat, meningkatnya angka jumlah ibu yang bekerja, anak-anak menggandrungi film bertema setan (Devil-child film), tidak optimis terhadap masa depan, sinisme dan lemah dalam kepercayaan dan nilai-nilai tradisional. Sangat jelas tidak terlihat adanya peran laki-laki yang disebut Ayah. Krisis ini sangat berdampak pada kemandulan  di kalangan generasi muda untuk dapat melihat siapa diri dan kemana masa depannya. Anak-anak hanya mampu melakukan apa yang dipahami secara tidak lengkap dan miskin akan prestasi yang bermakna dan bermoral tinggi. Sekalipun anak-anak tinggal bersama-sama dengan ibu dengan hubungan yang baik (baca : Single Parent), menurut Cessie Cartens, mereka tetap akan memanggil perhatian Ayahnya daripada perhatian ibunya (sumber : Dunia Membutuh Bapa- Cessie Cartens). Mengapa demikian?

Tujuan Tuhan Yang Maha Kuasa menciptakan manusia adalah untuk menghasilkan keturunan dan dengan keturunan itu, mereka mampu menjadi orang yang berkuasa (to have dominion) untuk menata bumi dan segala isinya. Terkandung potensi dan karakter luhur dalam setiap manusia. Potensi dan bakat akan menjadi kompetensi dan keahlian yang tak terbatas dan sangat besar kekuatannya. Ini adalah sebuah perjalanan yang panjang. Perjalanan ini dimulai di dalam sebuah komunitas yakni KELUARGA.

Mengapa harus dimulai dari Ayah?

Dalam sebuah institusi rumah tangga, Suami atau Ayah adalah kepada dari rumah tangga itu. Kata kepala diartikan dari kata Yunani , κεφαλη (kephale) yang artinya supreme yakni tertinggi. Tertinggi yang dimaksud dalam satu sistem dimana Ayah dalam keluarga diberi kehormatan untuk menjadi yang tertinggi atau pertama secara status sehingga berperan sangat strategis bagi istri dan anak-anak. Arahan, dan pendampingan bagi keturunan menjadi tugas dan tanggung jawab seorang Ayah.

Sebagai Ayah seharusnya kita sudah mengambil bagian sebagai mentor bagi anak-anak secara spiritual, jiwani dan jasmani. Sebagai Ayah berupaya untuk semua anggota rumah tangga agar dapat berfungsi dan bertumbuh berdasarkan kapasitas diri (panggilan, karakter, temperamen dan personality) yang dimiliki. Untuk itu diperlukan 2 hal penting dalam diri seorang ayah yakni Peran Mentor yakni mengenal mentee (anak yang dibina) dengan baik dan memberikan diri untuk menjadi mitra/teman/sahabat untuk menggali dan mengembangkan potensi diri dari anak. Sekali lagi peran Ayah atau mentor adalah menolong untuk memberdayakan potensi anak , bukan memperdayanya dengan segala macam teknik. Mengapa? Karena potensi dan talenta yang diberikan oleh Tuhan yang Maha Kuasa adalah untuk dikembangkan dengan baik melalui bantuan Ayah dan Ibu sebagai orangtua yang berperan sebagai mentor.

Bagaimana kita dapat menjadi seorang mentor yang meneguhkan potensi anak yang kita bisa ? Menurut Cassie Cartens, afirmasi adalah cara mendidik yang jauh lebih baik daripada koreksi. Beberapa peneliti berkata rata-rata orangtua berkomunikasi dengan anak-anaknya antara 19-36 menit setiap harinya dan peneliti lainnya mengatakan bahwa 70% darinya adalah komunikasi yang negative/koreksi. Menurut Cassie, bahwa ayah lebih mudah menemukan perilaku yang buruk daripada melihat perilaku yang baik.

Ada 5 tanggung jawab penting dalam memberikan afirmasi :

  1. Mendorong keutuhan seluruh aspek kehidupan
    • Dengan pendekatan perilakua manusia, ada 5 unsur sebagai sebaran dari perilaku manusia yakni Pola pikir (Cognitive), Pola Rasa (Affective), Kehendak (Will), Pola Tindak (Psikomotoric) dan Kebiasaan (Habit). Proses mendorong adalah proses menuntun anak untuk menemukan apa yang ada dalam pikiran, dalam perasaan, kehendak dirinya, dan bagaimana merealisasikannya secara konsisten sampai menjadi kebiasaan-kabiasaan positif yang berlangsung dalam jangka waktu lama sampai anak menemukan passion dan panggilan dirinya di tengah dunia.
  2. Afirmasi anak anda berdasarkan kebutuhan dari musim kehidupannya
    • Kebutuhan seorang anak adalah kompleks dan ada dalam rentang waktu pertumbuhan yang bertingkat. Kebutuhan utama dilihat dari kebutuhan jiwa yang sehat. Menurut Charles Stanley, ada 3 kebutuhan jiwa yakni Kebutuhan dikasihi (Sense of Belonging), kebutuhan dihargai (Sense of Worthiness) dan kebutuhan di percayai (Sense of competence). Ketiganya adalah merupakan satu kesatuan yang ideal. Namun di tengah perubahan dunia yang sangat cepat, terutama ditekankan bahwa kita ada di era social 4.0, menstimulasi respon kritis dari jiwa seorang anak. Jika seorang anak tidak mengenal identitas diri dan masa dimana dia sedang bertumbuh dan area kebutuhan apa yang dia perlukan (kebutuhan fisik, sosial/pertemanan, spiritual, pendidikan), maka kebutuhan jiwa dapat saja tidak terpenuhi secara lengkap dan ideal. Ketika hal demikian terjadi, maka anak akan mengalami pertumbuhan jiwa yang terganggu.
    • Itu sebabnya, seorang Ayah atau orangtua, perlu sekali memahami tahapan pertumbuhan anak sesuai musim kehidupannya agar orangtua dapat memberikan afirmasi yang tepat.
  3. Afirmasi setiap anak berdasarkan talenta dan keunikan mereka
    • Setiap orang memiliki talenta unik dan potensif untuk diekspresikan. Talenta seorang anak tidak terlepas dari faktor keturunan yakni orangtua atau kakek atau kakek buyutnya. Ada aliran warisan temperamen dalam diri seorang anak. Menurut Teori Mendel ada 30% pengaruh orangtua dalam temperamen yang diturunkan kepada anak. Sisanya ada faktor lingkungan yang mempengaruhi ekspresi talenta (temperamen) anak di tengah lingkungan hidupnya.
  4. Afirmasi anak berdasarkan keunikan hubungan sosial mereka
    • Setiap anak tentu memiliki kemampuan bersosialisasi. Namun niat dan cara bisa berbeda-beda. Afirmasi dimulai dari keunikan relasi sosial dalam diri Anak, melalui pengenalan kepribadian anak dengan pengamatan perilaku sehari-hari dan atau juga dengan bantuan sistem analisa perilaku secara ilmiah.
  5. Afirmasi orientasi jenis kelamin setiap anak
    • Menurut Ezra dan Erick, dalam fase pertumbuhan seorang anak laki-laki dan perempuan memiliki penekanan kebutuhan yang berbeda dari ayah dan ibu. Untuk anak yang tumbuh di fase usia 5 – 12 tahun, seorang anak laki-laki memiliki kedekatan dengan ibunya, sedangkan anak perempuan memiliki kedekatan dengan ayahnya. Untuk anak yang tumbuh di fase usia 12 – 21 tahun, seorang anak laki-laki memiliki kedekatan dengan ayahnya, sedangkan anak perempuan memiliki kedekatan dengan ibunya. Apa saja fungsi ayah dan ibu dalam menjawab kebutuhan Anak?
    • Fungsi ayah ada 3 yakni sebagai Director (fungsi pengarahan), Protector (fungsi perlindungan) dan Provider (fungsi penyedia kebutuhan). Fungsi ibu ada 3 yakni sebagai Feeder (fungsi pengasuhan dalam hal makanan bergizi), Coach (fungsi melatih kepedulian kepada sesama dan memiki empati).
(SUMBER : DUNIA MEMBUTUHKAN SEORANG BAPA-CASSIE CARSTENS).

Internalisasi

  1. Menurut Anda, seberapa penting orangtua untuk mengenal dan mengembangkan potensi diri anak (secara spirtual, jiwa dan jasmani)?
  2. Apakah anda memiliki pola pengembangan potensi diri anak anda? Bagaimana anda membangun pola pengembangan potensi diri anak anda?
  3. Menurut anda, bagaimana metode afirmasi dalam pengenalan dan pengembangan potensi diri? Bagaimana dengan metode koreksi?

Daftar sekarang, tempat sangat terbatas :
https://bit.ly/2FVxiiU
Konfirmasi wa :
(+62) 812-1984-9996 (IC7 Academy)

Join Grup Whats App : https://chat.whatsapp.com/HU2ahMEoL9B2H3p6MrqelI

MEMBANGUN SISTEM TERPADU BIMBINGAN & KONSELING DI SEKOLAH DAN RUMAH TANGGA

MENGAPA HARUS MENGIKUTI TRAINING INI?

Kunci perubahan ada di tangan manusia. Manusia sebagai sumber daya penggerak perubahan, diperlukan sistem pembinaan yang sistematis untuk setiap orang, terutama dimulai dari usia anak-anak/remaja/dewasa, yang terintegrasi – baik di rumah tangga maupun di lembaga pendidikan.

Diperlukan kolaborasi yang melekat antara Lembaga Pendidikan dengan Rumah Tangga sebagai lembaga pendidikan secara holistik terhadap anak-anak/remaja/dewasa dalam kerangka memfasilitasi mereka untuk mengenal keunikan dan titik kritis identitas diri yang bersumber dari talenta unik sehingga tercipta satu sistem yang kondusif untuk menghantarkan anak/remaja/dewasa ke jalur sukses untuk pencapaian nilai sukses yang sejati.

Untuk penggalian talenta secara maksimal dalam kerangka mengatasi titik kritis identitas diri, sangat perlu sistem yang integratif dan kolaboratif yang berkesinambungan. Sistem tersebut disebut Sistem Terpadu Bimbingan-Konseling Terpadu (ST-BK). ST-BK terdiri dari 5 (Lima) sistem yakni

1. Training System  yakni sistem yang menjalankan fungsi manajemen pengetahuan (Knowledge Manegement).

2. Counseling System yakni sistem yang menjalankan fungsi manajemen emosi (Emotion Manegement).

3. Coaching System yakni sistem yang menjalankan fungsi manajemen kompetensi (Hard skill) (Competency Management).

4. Mediating System yakni sistem yang menjalankan fungsi manajemen konflik melalui pemetaan dan penanganan 5 sumber konflik (Conflict Management).

5. Termination system yakni sistem yang menjalankan fungsi penyelesaian akhir dari permasalahan yang terjadi (Termination Management).

Sistem dapat dibangun & diterapkan dalam Layanan Bimbingan dan Konseling di Rumah Tangga dan Semua bentuk Lembaga Pendidikan (Pendidikan dasar – Pendidikan TInggi).

Daftar sekarang, tempat sangat terbatas :
https://bit.ly/2FVxiiU
Konfirmasi wa :
(+62) 812-1984-9996 (IC7 Academy)

Join Grup Whats App : https://chat.whatsapp.com/HU2ahMEoL9B2H3p6MrqelI

MEMBANGUN SISTEM PEMULIHAN MURID BERBASIS MANAJEMEN KARAKTER DALAM KERANGKA PENGEMBANGAN PROGRAM BIMBINGAN & KONSELING SEKOLAH DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0

(Building  A Character Management Based Student Recovery Ssystem for The Development of School Teaching & Counseling Programs in The Era of Industrial Revolution 4.0)

A. PENDAHULUAN

Latar belakang

Seiring perkembangan dan perubahan jaman, terjadi perubahan tingkah laku dan perilaku manusia berubah dari masa ke masa. Hal ini turut juga merubah perkembangan sistem pendidikan di dunia dan di Indonesia pada khususnya. Sistem pendidikan adalah strategi atau metode yang digunakan dalam proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan agar peserta didik dapat secara aktif mengembangkan potensi di dalam dirinya (Andran, 2014). Perubahan ini dapat dilihat dari perubahan sistem pendidikan yang terdiri dari pembelajaran, pengajaran, kurikulum, perkembangan peserta didik, cara belajar, alat belajar sarana dan prasarana dan kompetensi lulusan dari masa kemasa. Dalam teori belajar behavioristik menjelaskan bahwa belajar adalah suatu perubahan tingkah laku yang dapat diamati secara langsung, yang terjadi melalui hubungan stimulus-stimulus dan respon-respon menurut prinsip-prinsip mekanistik (Izzatur Rusuli, 2014) (Sumber : ANALISIS PENDIDIKAN INDONESIA DI  ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0 Eko Risdianto, M.Cs Universitas Bengkulu 2019).

            Perkembangan pendidikan di dunia tidak lepas dari adanya perkembangan dari revolusi industri yang terjadi di dunia, karena secara tidak langsung perubahan tatanan ekonomi turut merubah tatanan pendidikan di suatu negara. Revolusi industri dimulai  dari 1) Revolusi Industri 1.0 terjadi pada abad ke 18 melalui penemuan mesin uap, sehingga memungkinkan barang dapat diproduksi secara masal, 2) Revolusi Industri 2.0 terjadi pada abad ke 19-20 melalui penggunaan listrik yang membuat biaya produksi menjadi murah, 3) Revolusi Industri 3.0 terjadi pada sekitar tahun 1970an melalui penggunaan komputerisasi, dan 4) Revolusi Industri 4.0 sendiri terjadi pada sekitar tahun 2010-an melalui rekayasa intelegensia dan internet of thing sebagai tulang  punggung pergerakan dan konektivitas manusia dan mesin (Prasetyo & Trisyanti, 2018). 

Perubahan besar terjadi dalam sektor industri di era revolusi industri keempat, kita bisa melihat saat ini di mana teknologi informasi dan komunikasi dimanfaatkan sepenuhnya di hampir lini kehidupan manusia. Seperti dijelaskan dalam (RISTEKDIKTI, 2018) Ciri-ciri Era Disrupsi dapat dijelaskan melalui (VUCA) yaitu Perubahan yang masif, cepat, dengan pola yang sulit ditebak (Volatility),  Perubahan yang cepat menyebabkan ketidakpastian (Uncertainty),  terjadinya kompleksitas hubungan antar faktor penyebab perubahan (Complexity), Kekurangjelasan arah perubahan yang menyebabkan ambiguitas (Ambiguity). Pada Era ini teknologi informasi telah menjadi basis atau dasar dalam kehidupan manusia termasuk dalam bidang bidang pendidikan di Indonesia. Pada Era Revolusi industri 4.0 beberapa hal terjadi menjadi tanpa batas melalui teknologi komputasi dan data yang tidak terbatas, hal ini terjadi karena dipengaruhi oleh perkembangan internet dan teknologi digital yang masif sebagai tulang punggung pergerakan dan konektivitas manusia dan mesin. Era ini juga akan mendisrupsi berbagai aktivitas manusia, termasuk di dalamnya bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) serta pendidikan tinggi.

Di era disrupsi seperti saat ini, dunia pendidikan dituntut mampu membekali para peserta didik dengan ketrampilan abad 21 (21st Century Skills). Ketrampilan ini adalah ketrampilan peserta didik yang mampu untuk bisa berfikir kritis dan memecahkan masalah, kreatif dan inovatif serta ketrampilan komunikasi dan kolaborasi. Selain itu ketrampilan mencari, mengelola dan menyampaikan informasi serta trampil menggunakan informasi dan teknologi. Beberapa kemampuan yang harus dimiliki di di abad 21 ini meliputi  : Leadership, Digital Literacy, Communication, Emotional Intelligence, Entrepreneurship,Global Citizenship , Problem Solving, Team-working. Tiga Isu Pendidikan di Indonesia saat ini Pendidikan karakter, pendidikan vokasi, inovasi. (Wibawa, 2018).

Agar dunia pendidikan tetap menjadi bidang yang memimpin perubahan yang sangat bermakna pada sisi manusia (sebagai sumber daya), maka yang pertama sekali harus dibenahi adalah guru atau praktisi pendidik yang memiliki kesiapan secara karakter dan kompetensi. Mau tidak mau guru dan dosen harus memiliki esensi kompetensi yang kuat, memiliki softskiil antar lain : Critical Thinking Skill, Creative Thinking Skill, Powerfull Communication dan Collaborative. Peran guru sebagai teladan karakter, menebar passion dan inspiratif. Upaya ini tidak bisa hanya dikerjakan oleh Wali kelas dan guru Mata Pelajaran, tetapi juga sangat diperlukan guru dan sistem Bimbingan-Konseling sekolah yang memiliki sistem yang terbaharukan, seiring dengan perubahan peradaban manusia di Era Revolusi Inudustri 4.0.

Bagaimanakah kesiapan Layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah? Dari hasil studi, dukungan sistem penyelenggaraan bimbingan dan konseling menurut Yusuf (2006: 74) meliputi dua aspek, yang terdiri dari :

1. Pemberian layanan konsultasi/kolaborasi

Pemberian layanan ini menyangkut kegiatan guru pembimbing yang meliputi

(1) kolaborasi dengan guru-guru

(2) menyelenggarakan program kerja sama dengan orang tua siswa atau masyarakat

(3) berpartisipasi dalam merencanakan kegiatan-kegiatan sekolah

(4) bekerjasama dengan personel sekolah lainnya dalam rangka menciptakan kondisi

     lingkungan sekolah yang kondusif bagi perkembangan siswa

(5) melakukan penelitian tentang masalah-masalah yang berkaitan erat dengan

     bimbingan dan konseling.

2. Kegiatan manajemen

Kegiatan manajemen ini merupakan upaya untuk memantapkan, memelihara, dan meningkatkan mutu program bimbingan dan konseling melalui kegiatan-kegiatan

(1) pengembangan program

(2) pengembangan staf

(3) pemanfaatan sumber daya

(4) pengembangan penataan kebijakan.

Jika disimpulkan bahwa menurut Yusuf, sistem Layanan Bimbingan dan Konseling memiliki komponen dan sistem yang kompleks. Selain harus mendukung Visi dan Misi Sekolah, sangat diperlukan kemitraan peran Guru Wali Kelas, Guru Mata Pelajaran dan orangtua murid dalam menjalankan peran dari program Bimbingan dan Konseling di sekolah. Agar proses pembimbingan dapat diukur dengan baik, diperlukan sistem penilaian yang baik (Appraisal System). Sistem penilaian tersebut memiliki 4 kriteria penilaian yakni

  1. Kararakter (Character)
  2. Kompetensi (Competency)
  3. Komitmen (Commitment)
  4. Kontribusi (Contribution)

Selain itu, diperlukan satu sistem pembimbingan dan konseling untuk murid yang efektif, integratif dengan sistem sekolah dan menjawab tantangan Era Revolusi Industri 4.0 bagi murid. Pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah merupakan usaha membantu peserta didik dalam pengembangan kehidupan pribadi, kehidupan sosial, kegiatan belajar, serta perencanaan dan pengembangan karir. Pelayanan bimbingan dan konseling memfasilitasi pengembangan peserta didik secara individual, kelompok, dan atau klasikal, sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, minat, perkembangan, kondisi, serta peluang-peluang yang dimiliki. Pelayanan ini juga membantu mengatasi kelemahan dan hamba tan serta masalah yang dihadapi peserta didik. (H. Kamaluddin-Jurnal Pendidikan & Kebudayaan, Vol 17, Nomor 4, Juli 2011)

Penyuluh memainkan peranan penting dalam sistem pendidikan dan mereka dianggap sebagai psikolog sekolah. Penyuluhan harus mencangkup dan mempunyai sasaran untuk mengembangkan serta memperluas potensi-potensi siswa. Mereka harus memiliki kemampuan hubungan masyarakat hubungan masyarakat yang bagus dan solusi alternative kepada para siswa. Penyuluh melaksanakan perencanaan, menjalankan program, pengawasan dan evaluasi serta melaksanakan tindak lanjut dalam kegiatan penyuluhan. Penyuluhan juga bertanggung jawab dalam menginformasikan jalur-jalur karir kepada para siswa. Penyuluhan bertindak sebagai penyelesaian masalah solver para siswa. Menteri Pendidikan telah memberikan kebebasan penuh kepada penyuluhan untuk mengembangkan potensi siswa dan menyediakan bimbingan serta penyuluhan yang efektif. (H. Kamaluddin-Jurnal Pendidikan & Kebudayaan, Vol 17, Nomor 4, Juli 2011)

Oleh karena itu, diperlukan satu sistem “Recovery” untuk meningkatkan layanan Bimbingan dan Konseling Murid di sekolah terutama ditekankan bagaimana seorang guru Bimbingan dan Konseling dapat berfungsi optimal secara karakter dan kompetensi dengan sistem “Recovery” murid yang berbasis pada Manajemen karakter. Dalam membangun sistem “Recovery” murid yang bersifat terpadu, bertujuan untuk mewadahi kebutuhan pengembangan talenta murid secara terpadu dan integratif.

Sistem “Recovery” terdiri dari 5 keterampilan yang bersistem yang harus dimiliki dan dilatih oleh para guru Bimbingan dan Konseling. Kelima keterampilan tersebut adalah

  1. Training : Knowledge management (Pelatihan : Manajemen pengetahuan)
  2. Counseling : emotional management (Pelatihan : Manajemen emosi)
  3. Coaching : Competency management (Pelatihan : Manajemen Keahlian)
  4. Mediating : Conflict management (Pelatihan : Manajemen konflik)
  5. Termination : The end of Recovery Service (Pelatihan : Pelayanan penyelesaian)
  • Tujuan

Pelatihan ini bertujuan :

  1. Membangun sistem Bimbingan dan Konseling di sekolah secara efektif dengan basis manajemen karakter.
  2. Sistem yang dibangun bertujuan untuk program pemulihan/pembaharuan murid (Recovery system) yang terdiri dari 4 (empat) sistem yakni :
    1. Sistem pelatihan (Training system) dengan tujuan manajemen pengetahuan murid.
    1. Sistem konseling (Counseling system) dengan tujuan manajemen emosi murid.
    1. Sistem pembinaan (Coaching system) dengan tujuan manajemen kemampuan/keahlian murid.
    1. Sistem mediasi (Mediation system) dengan tujuan manajemen konflik murid.
    1. Sistem terminasi (Termination system) dengan tujuan untuk penyelesaian terakhir terhadap permasalahan yang dihadapi murid.
  3. Melatih guru untuk menjadi seorang penyuluh yang memiliki kemampuan holistik dalam aspek karakter (Character), kompetensi (Competency), komitmen (Commitment) dan kontribusi (Contribution) terbaik. 
  • KURIKULUM PELATIHAN

Program pelatihan ini diberikan untuk para guru khususnya Guru atau penyuluh di bidang Bimbingan dan Konseling atau Guru Mata Pelajaran dan Kepala Sekolah.

Jumlah Jam Pelajaran (JP) yang diberikan sebanyak 82 Jam Pelajaran (82 JP).

            Metode pelatihan dilakukan secara daring (dalam jaringan) dan Luring (Luar Jaringan), dengan menggunakan aplikasi Zoom meeting, Google class room, youtube dan Whats app. Berikut adalah kurikulum pelatihan yang akan diberikan :

NoModulDefenisiSilabusJam Pelajaran (JP)
01Aplikasi Manajemen KarakterPenerapan kekuatan karakter dan mengatasi titik kritis dalam pengembangan talenta dan perencanaan studi dan karir.Konsep karakter dan implementasi dalam penjurusan studi dan rencana karir murid.Implementasi Warna Karakter MKHU (acuan dari 4 Dimensi orang). (Fotokarakter)Implementasi proses Training, Couseling, Coaching dan Mediation berdasarkan 4 warna karakter.12
02Sistem Pelatihan (Training system)Memahami dan menerapkan sistem manajemen pengetahuan dalam diri murid secara sistemik.Memahami konsep manajemen pengetahuan (Training) dan implementasinya dengan pendekatan 4 warna karakter & innate temperament.Memahami konsep sistem training dan integrasinya ke dalam Sistem Bimbingan dan Konseling .12
03Sistem Konseling (Counseling system)Memahami dan menerapkan sistem manajemen emosi dalam diri murid secara sistemik melalui teknik konseling.Memahami konsep manajemen emosi (Counseling) dan implementasinya dengan pendekatan 4 warna karakter & innate temperamentMemahami konsep sistem training dan integrasinya ke dalam Sistem Bimbingan dan Konseling.12
04Sistem pembinaan (Coaching system)Memahami dan menerapkan sistem manajemen kompetensi dalam diri murid secara sistemik.1.  Memahami konsep manajemen kompetensi  (Coaching) dan implementasinya dengan pendekatan 4 warna karakter & innate temperament. 2.  Memahami konsep sistem training dan integrasinya ke dalam Sistem Bimbingan dan Konseling12
05Sistem mediasi (Mediation system)Memahami dan menerapkan sistem manajemen konflik dan ragam konflik dalam diri murid secara sistemik.Memahami konsep manajemen konflik (Mediation) dan implementasinya dengan pendekatan 4 warna karakter & innate temperament.Analisa penyebab konflik melalui 5 sumber konflik. Memahami konsep sistem training dan integrasinya ke dalam Sistem Bimbingan dan Konseling12
06Sistem terminasi (Termination system)Memahami dan menerapkan sistem penyelesaian permasalahan murid melalui tahapan secara sistemik.Memahami konsep terminasi dan implementasinya.Memahami mekanisme penetapan peneguran dan pendisiplinan murid. 3.  Memahami konsep sistem training dan integrasinya ke dalam Sistem Bimbingan dan Konseling11
07Guru sebagai Manager dengan 4 peranMemahami dan mengimplementasikan peran guru sebagai trainer (Pengajar), coach (Pembina), counselor (konselor) dan mediator (PengenagMemahami dan menjadi model Guru sebagai pengelola atau manajer kelas melalui implementasi fungsi sebagai Pelatih/pengajar (Trainer), Konselor (Counselor), Pembina (Coach) dan Penyelesai konflik (Mediator)11
Daftar sekarang, tempat sangat terbatas :
https://bit.ly/2FVxiiU
Konfirmasi wa :
(+62) 812-1984-9996 (IC7 Academy)
Salam Guru Hebat! IC7 Academy

A. TUJUAN & SASARAN :

  1. Menjadi mitra penemuan dan pengembangan talenta berdasarkan keunikan (kekuatan) diri.
  2. Melakukan Special Consultation untuk mengerucutkan hasil penemuan diri dan membuat pemetaan diri (Personal Profile Mapping).
  3. Melakukan Special Coaching terstruktur dan berkesinambungan melalui pendekatan 50 karakter kepemimpinan (50 Leadership Skill Through Character) dan 12 kecerdasan manusia unggul (12 Quotient for Success).

B. PROGRAM 

  1. Pemetaan Talenta Pribadi (Personal Talents Mapping) dengan menggunakan seperangkat alat tes yang terdiri dari Fotokarakter, Emotional Quotient (EQ), Intellingence Quotients(IQ), Spiritual Quotient (SQ), Adversity Quotient (AQ), Special Ability (SA) dan Personal Experience (PE). (Talents Mapping)
  2. Cognitive Behavior Therapy – untuk mengatasi titik kritis diri. (Minimize Critical Point)
  3. Special Coaching one on one / group – untuk melatih secara intensif pengembangan diri yang terfokus. (Intensive Coaching)
  4. Final Recommendation – membuat resume hasil pelatihan secara pribadi dan memberikan rekomendasi untuk pengembangan diri dalam aspek studi, karir/pekerjaan, keluarga, dan lain-lain. (Recommendation for Future).

 C. MATERI

Materi pengembangan diri dikemas dalam sistem paket. Berikut serangkaian paket pengembangan diri :

1. Basic Level (usia sebelum 30 tahun)

Materi : Planning Future – Character Management – Time Management – Maximum Creativity – Critical Thinking – Priority Action – Self Management – Self Great Motivation – Decision Making – Excellent Collaborative –  Great Mentality – The Meaningful Relationship.

Paket Penilaian diri (Personal Talents Mapping) : Fotokarakter – Emotional Quotient – Special Ability – Adversity Quotint – Workbook Goal Setting Workshop – Spiritual Quotient.

2. Intermediate Level (usia sebelum 40 tahun)

Materi : Planning Future – Character Management – Right Direction – Life Management – Maximum Creativity – Critical Thinking – Decision Making – Excellent Collaborative –  Great Mentality – The Meaningful Relationship – Build inner Motivation – A Great Persuation – Publication Skill – Management Conflick – Project Management – Forecasting & Budgeting – Service Excellent – Building Team.

Paket Penilaian diri (Personal Talents Mapping) : Fotokarakter – Emotional Quotient – Special Ability – Adversity Quotint – Workbook Goal Setting Workshop – Spiritual Quotient.

3. Advance Level (usia sebelum 60 tahun)

Materi : Transformation Management – Legacy Management – Finishing Well Management.

Paket Penilaian diri (Personal Talents Mapping) : Fotokarakter – Emotional Quotient – Special Ability – Adversity Quotint – Workbook Goal Setting Workshop – Spiritual Quotient.

D. SISTEM 

Sekolah ini mengedepankan teknik Coaching yang sangat personal yakni pendekatan solusi untuk mengatasi titik kritis diri dan pengembangan kekuatan diri. Diselingi dengan konseling dan training.

Sekolah diselenggarakan dengan Sistem Reguler (3 bulan) dalam suasana yang rileks & menyenangkan. Dengan metode tatap muka 1x seminggu (12 kali tatap muka).

Dilaksanakan dalam kelas – Mini Group (3-5 orang).

 

 

E. FASILITAS

Fasilitas : Ruang Coaching, Modul-modul Pengembangan Diri, Personal Talents Mapping & Gathering Moment.

F. COACH TEAM

Program ini diasuh oleh tim yang memiliki sertifikat keahlian di bidang Perilaku Manusia (Certified Behavior Consultant – CBC) yang telah memiliki pengalaman melakukan Coaching, Training dan Counseling kepada ribuan orang dari berbagai latar belakang usia, pendidikan dan profesi.

 

 

 

 

Further Information : (+62) 812 8403 4622

 

CERDAS & CERDIK – Santoso S. Hutabarat, S.Si, M.Th, CBC, CLS

TAHUKAN ANDA PERBEDAAN ANTARA CERDAS DENGAN CERDIK? Cerdas adalah satu kemampuan berpikir tentang pengetahuan (Knowledge). Disebut juga intelektual. Sedangkan Cerdik adalah bagaimana merealisasikan kecerdasan dalam kehidupan sehari-hari. Disebut juga dengan hikmat. Ternyata dari hasil survei bahwa para pembuat sejarah dalam berbagai bidang kehidupan, diantaranya Nelson Mandela (Pejuang Anti Apertheid di Afrika Selatan), Albert Einstein (Penemu Teori Relativitas- Fisika) dan Bill Gates (Penemu Microsoft Programe – menjadi orang terkaya di dunia) selalu berpikir dan bertindak secara unik dan diluar kebiasaan namun selalu mencetak nilai sukses dan buah karya yang sangat berguna bagi banyak orang. Ada kalimat bijak seperti ini, “Orang pintar adalah orang yang dapat menyederhanakan sesuatu yang rumit melalui ide pikiran dan buah karyanya.”. Seorang pakar bukanlah seorang yang bangga dapat mempresentasikan konsep demi konsep kehidupan dengan bahasa verbal dan non verbal yang rumit kepada orang lain. Tetapi seharusnya seorang pakar berperilaku sebaliknya.

Bagaimana dengan Anda? Yang pasti setiap orang diciptakan sempurna dalam potensi suksesnya. Artinya setiap orang mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi seorang yang cerdas dan cerdik. Yang terutama adalah bagaimana menjadi orang Cerdik. Nah, untuk menjadi cerdik Anda harus belajar menjadi cerdas karena kecerdasan menjadi dasar untuk Anda mampu bertindak dengan cerdik atau selalu penuh hikmat dalam setiap keputusan Anda. Secara sederhana indikator orang cerdik adalah selalu melakukan (berusaha untuk menjadi teladan – Role Model) apa yang dia yakini dengan konsep kebenaran, untuk ditunjukkan bukan sekedar dengan tindakan tetapi sudah menjadi gaya hidupnya (Life style) dan akhirnya menjadi kebudayaan dirinnya (Culture). 

Seorang yang cerdas dan cerdik adalah seorang Role Model atau The Agent of Change. Bagaimana untuk dapat menjadi Role Model? Perhatikan struktur proses menuju manusia cerdik disamping ini :

  • Untuk menjadi seorang cerdas haruslah memiliki pengetahuan yang baik dan benar (memiliki dasar teori).
  • Untuk menjadi seorang yang cerdik haruslah memiliki keinginan yang kuat untuk  menjadi pelaku dari teori atau konsep yang diyakininya secara berkesinambungan. Ketika Anda menjadi pelaku yang setia maka Anda tentu memiliki pengalaman yang banyak. Pengalaman yang baik dari diri Anda akan berpengaruh dalam keputusan Anda untuk bertindak dengan akurat (A great wisdom).
  • Seorang Role Model telah memiliki pengalaman dan hikmat yang dewasa sehingga dia layak menjadi seorang yang disebut pengubah sejarah berkualitas. Dialah seorang yang cerdik.

Anda adalah orang yang memiliki kesempatan untuk menjadi pengubah sejarah dunia yakni dunia yang menjadi lebih baik dari sekarang. Anda adalah orang yang dirancang untuk melakukan perubahan yang selalu baik dan bukan sebaliknya karena genetik manusia adalah di-setting up – oleh Sang Pencipta hanya untuk melayani diri-Nya, bukan melayani keegoisan. Indonesia membutuuhkan orang-orang yang cerdas dan cerdik penuh hikmat untuk membangun bangsa Ini. Salam Cerdas dan Cerdik.

(Penulis : Santoso S. Hutabarat, S.Si, M.Th, CBC, CLS – dukungan berbagai literatur – Supported by Power Character and JE).

 

Layanan Training 12 Quotients for Success : IC7 ACADEMY – Mobile : + 62 812 8403 4622

 

KONSULTAN PERTAMA DI SAAT KRISIS

Semua orang memerlukan teman atau sahabat. Ketika seseorang sudah menjadi teman atau sahabat maka hubungan formal dalam lembaga apapun akan menjadi kuat dan harmonis sehingga produktivitas akan semakin meningkat secara langgeng. Data dari Bilangan Research Center di tahun 2018, secara nasional menunjukkan realitas pada saat krisis datang di kalangan generasi muda, semua orang membutuhkan orang lain yang bukan hanya sebatas jabatan formal tetapi hubungan yang dalam secara emosi. Orang tua menjadi konsultan pertama pada saat krisis menerpa (43,10%), disusul teman atau sahabat (28,90%). Peran mentor sebagai konsultan pertama adalah 4,0%. Mengapa demikian?

Ada satu studi pemahaman tentang peran mentor/coach yang sukses yakni dimana seorang mentor/coach melepaskan ‘jas formalitas’ nya dengan ‘pakaian santai informal’ ketika menghadapi clientnya yakni terjadi relasi informal yang rileks tetapi mampu mengakomodir keluh kesah, rintangan dan tantangan yang dihadapi mentee/orang yang di-coaching dan bahkan memberikan saran yang mudah diterima dan dilaksanakan. Di dalamnya ada ‘personal expression’ seseorang yang apa adanya dan diterima tanpa syarat oleh seorang coach/mentor. Jikalau di rumah ayah dan ibu menjadi konsultan pertama di saat krisis, bagaimana dengan di kantor/perusahaan/lembaga bisnis Anda? Seberapa ber-karakter dan ber-kompetensinya Anda sebagai mentor dan coach di perusahaan Anda?

Kami hadir mau membantu Anda menjadi Coach handal yang berkarakter empati dan ber-kompetensi professional dengan teknik-teknik coaching sederhana tapi akurat untuk melatih tim Anda dimanapun dan kapanpun. Dengan bantuan fotokarakter dan “Hand Book for Coaching” Anda bisa semakin ahli sebagai coach untuk semua kelompok usia dan profesi.

How to coach your children, and your team at work? How to lead The Y and Z Generation in your coorporate?

Your partner have just come : 
IC7 Academy – call : 0812-8403-4622

INERTIA

INERTIA

(Lawanlah keenganan untuk berubah)

Written by Santoso S. Hutabarat, S.Si, CBC, CLS, M.Th

Istilah Inertia mungkin bukan istilah yang umum, tetapi istilah ini menggambarkan tentang fenomena kemauan atau tidak untuk mengalami perubahan yang positif. Arti inertia adalah sebagai suatu kecenderungan untuk tetap dalam kondisi tertentu tanpa perubahan, seakan mempunyai keengganan untuk bergerak atau bertindak (Kamus Webster’s New World Dictionary). Dalam ilmu fisika, inertia mengacu pada kondisi suatu benda untuk tetap pada saat istirahat jika memang istirahat atau jika bergerak, terus bergerak dengan arah yang sama, kecuali dipengaruhi oleh kekuatan atau stimulan dari luar. Dengan kata lain, inertia tidak berarti kekurangan gerakan, hanya saja kurang perubahan.

Secara pribadi setiap orang ingin meraih sesuatu atau banyak hal dalam hidupnya dengan kualitas yang terbaik. Beranjak dari masa lalu ke masa depan adalah satu pola pikir perubahan. Manusia yang diciptakan sebagai makhluk yang komplek dan dinamis. Bukan sekedar itu, manusia sesungguhnya diberikan Sang Pencipta satu kekuatan untuk berkuasa (memiliki kuasa) untuk melakukan perubahan. Daya perubahan itu yang menjadikan setiap orang mampu mengubah dirinya dan mengubah segala hal diluar dirinya. Tetapi realitas tidak sedikit orang berada di dalam situasi dan kondisi tetap alias tidak atau enggan untuk melakukan perubahan atau mengubah diri sendiri dan orang lain. Inilah bibit penyakit yang harus diatasi sepanjang masa kehidupan.

Dalam satu organisasi, inertia menjadi penyakit kronis yang sangat berbahaya. Apakah itu satu rumah tangga, sekolah atau perusahaan dan berbagai bentuk organisasi lainnya. Dalam satu rumah tangga, status yang statis atau tetap atau begitu-begitu aja dapat terjadi. Misal secara ekonomi, mungkin kepala rumah tangga sudah bekerja belasan tahu tetapi, ekonomi keluarga tidak mengalami perubahan yang signifikan. Sebutlah ketidakmampuan membeli rumah pribadi atau kendaraan bermotor, anak-anak sepertinya tidak berpeluang untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah yang terbaik (ya… di sekolah yang alakadarnya saja). Kondisi ini tentu tidak nyaman dan pasti menggangu stabilitas rumah tangga. Jikalau kasus ini tidak dilihat sebagai penyakit kronis, ya mungkin hanya sebatas penyakit flu, yang dapat diatasi dengan minum air putih dan istirahat, maka inertia akan terjadi.

Dalam satu perusahaan, inertia menyebabkan kemandegan usaha, dimana mengakibatkan potensi kebangkrutan. Dewasa ini fenomena “desruptif” atau kegoncangan yang terjadi dalam industri perdagangan dunia. Sebutlah telah terjadi metode perdagangan dari metode konvensional dengan sistem pemasaran yang sangat teoritis dan terbatas kepada metode pemasaran produk secara cepat dan menghabiskan biaya yang relatif murah (freemium) yang dikenal dengan nama digital marketing alias pemasan online. Menurut pakar perubahan industri , ini disebut dengan revolusi industri dari konsep industri 3.0 kepada industri 4.0, yang akrab dengan penggunaan cyber phisical atau penggunaan teknologi internet. Era industri 3.0 yang sudah kental menggunakan sistem otomatisasi (sebisa mungkin pekerjaan yang dikerjakan oleh sistem robotic di), sudah mengubah wajah industri perdagangan dunia, ditambah lagi di era industri 4.0, akan semakin mengedepankan teknologi yang efektif, efisien dan produktif yang sangat membantu distribusi produk dan jasa kepada sebanyak mungkin konsumen. Tidak sedikit dampak yang terjadi terhadap perusahaan-perusahaan besar yang berusia puluhan tahun dan dikenal sudah mapan, mengidap inertia di masa perubahan industri perdagangan ini. Banyak yang runtuh dan hilang, ada juga yang berserah kepada perusahaan lain untuk dipinang dan dikawini atau ada juga perusahaan yang hilang identitasnya (dahulu di awal berdirinya memiliki visi, misi dan nilai-nilai atau budaya perusahaan yang sangat baik dan membudaya dalam kehidupan level direksi sampai karyawan), sehingga mau ga mau menerima identitas baru. Inertia adalah satu kata yang menggambarkan keengganan untuk berubah ke arah yang lebih baik.

Menurut Paulus Bambang W, ada 3 sumber inertia yang patut diwaspadai oleh pemegang saham (Share holders) dan pimpinan puncak perusahaan (Stake Holders) :

  1. Relationship Trap (Perangkap pertemanan). Ketidakmauan untuk lepas dari jeratan ‘principal’ ataun ‘main distributor’ karena alasan sudah lama bermitra sekalipun produk atau jasa yang dihasilkan sudah berada di titik kebangkrutan atau lenyap.
  1. Technology Trap (Perangkap teknologi). Tekonologi produksi barang atau jasa yang bersifat ‘absolute” atau terkesan tidak bisa lagi diubah karena pertimbangan kebutuhan biaya yang sangat tinggi untuk mengubahnya, seperti industri tekstil masa kini.
  1. Leadership Trap (Perangkap kepemimpinan)Banyak terjadi dalam perusahaan yang sudah berusia lebih dari satu generasi 930-40 tahun). Pemimpin yang muncul sampai di puncak saat ini karena pertumbuhan dari level terbawah organisasi atau yang membangun mulai dari nol. Kondisi ini sering menyebabkan pertumbuhan usaha berhenti karena kemampuan pemimpin yang sudah mencapai tahap ‘level of incompetence’. Hal ini tidak berarti mereka bodoh, tapi gaya kepemimpinan sudah tidak cocok lagi atau tidak relevan lagi di era persaingan saat ini di dalam masa revolusi industri 4.0. Tetapi jangan salah! Yang diganti bukan hanya pribadi atau orangnya tetapi kompetensinya juga harus yang relevan dengan saat ini.

Demikian juga dalam bidang pendidikan. Sistem pendidikan secara umum yang sudah dibangun ratusan tahun silam, dirancang untuk pekerjaan di pabrik. Anak-anak dididik dengan setumpuk tugas dan mengatur kehidupan mereka dengan dering lonceng. Sepanjang hari murida tidak melakukan apapun selain mengikuti petunjuk guru. Di sekolah murid dihargai sebatas jikalau murid melakukan apa yang diberitahu atau diperintahkan oleh guru. Keberhasilan mereka ditentukan oleh sejumlah instruksi dan melakukan persis apa yang diberitahukan. Inilah konsep kerja pabrik yang diterapkan dalam dunia pendidikan formal. Di era modern ini, manusia dituntur untuk kreatif dan inovatif serta cekatan (Fast and focus) dalam bekerja.

Inertia begitu kuat dalam sistem pendidikan masa kini. Sekalipun memang sudah mulai muncul kesadaran dari pelaku pendidikan dan orangtua akan keunikan dan kekuatan talenta anak yang ditunjukkan dengan munculnya komunitas –komunitas belajar informal yang dirasa cukup dapat mengakomodir gaya belajar, keunikan dan kecerdasan anak yang beragam yang alhasil mampu memfasilitas lahirnya talenta-talenta yang luar biasa. Tapi, gerakan ini masih sangat langka dan belum teroganisir dengan baik dan rapi.

Dalam rumah tangga, inertia menjadi kesempatan menikmati kenyamanan tak produktif alias status quo alias zona kenyamanan. Paham warisan leluhur yang pernah saya dengar dan simpan di otak saya yakni bahwa sukses adalah selalu diukurkan pada 3 hal yakni pencapaian pendidikan yang memadai, pekerjaan yang berpenghasilan relatif tinggi, dan memiliki keluarga yang terkesan “harus memiliki anak”. Pesan leluhur ini memang baik dan patut dilestarikan. Tetapi jikalau menjadi pakem dari satu generasi ke generasi, maka akan menimbulkan konflik internal generasi yang tidak relevan dengan perubahan zaman. Proteksi yang berlebihan dan kendali tali kuda delman yang kuat dipegang oleh orang tua, membuat kreativitas dan inovasi anak ter-kebiri dan menjadi mandul prestasi. Orangtua yang mewarisi petuah pendahulunya , diteruskan kepada anak, bahkan bisa sampai ke cucu , cicit bahkan ke generasi 5 dan seterusnya.

Perhatikanlah ilustrasi Populasi Dinosaurus yang sudah punah ribuan tahun silam. Mengapa populasi dinosaurus punah? Sederhana saja jawabanya saya, yakni karena mereka tidak mampu berubah ketika zaman berubah. Alhasil “dinosaurus membatu” alias tinggal monumen dan bahan ajar buat manusia masa kini dan masa depan. Keluarga yang tinggal di zona kenyamanan alias penjara kecil, akan tinggal kenangan.Kasihan, untuk anak-anak dan cucu-cucu yang hidup tetapi mati. Pengkebirian potensi diri telah terjadi sehingga lahirlah generasi asing di tengah zaman baru ini.

 

Kabar Baik

            Kabar baiknya adalah bahwa manusia bukanlah robot, tetapi makhluk hidup yang dinamis dan kreatif karena desain Sang Pencipta bahwa manusia adalah Penguasa Kecil yang dikendalikan oleh Penguasa agung yang diperlengkapi dengan talenta unik dan bersifat eksplosif (memiliki daya ledakan perubahan). Sebagai makhluk teristimewa dari yang lain, manusia menjadi yang berada di garis depan dalam pembangunan bumi menuju yang terbaik. Menjadi pelopor-pelopor baru dalam berbagai bidang kehidupan, dalam rumah tangga, pendidikan, perusahaan atau bisnis dan bahkan semua bidang kehidupan.

Talenta adalah kekuasaan (Talents is power) untuk memimpin perubahan dari waktu ke waktu sehingga menutup semua kesempatan terjadinya inertia. Ketika manusia bertalenta bertindak, maka tidak akan ada lagi status quo dalam studi, tidak ada lagi status quo dalam keluarga dan tidak ada lagi status quo dalam karir. Talenta yang hidup bukan saja menghidupi seseorang, tetapi juga akan menghidupi banyak orang (membuka lapangan kerja, mencetak anak-anak didik yang senang belajar dan produktif bahkan kreatif selalu, kepemimpinan rumah tangga yang memiliki jiwa kebapaan, managarial dan kepemimpinan yang visioner dalam keluarga dan penjaga nilai-nilai luhur).

Saatnya untuk mematikan keingina inertia. Saatnya bersiap untuk satu ledakan perubahan yang positif.

Salam Radical Talents

RADICAL TALENTS 2019

3 penyebab umum cita-cita tidak sesuai dengan realita

1. Ketidakmampuan

Tak bisa dipungkiri untuk mengejar profesi yang menjadi cita-cita kadang mengharuskan seseorang belajar di jenjang pendidikan tertentu. Tapi tau kan Gan kalau kadang, keadaan ekonomi bisa mempengaruhi hal tersebut. Ente pengen jadi dokter tapi untuk bisa sekolah kedokteran tentu butuh uang besar. Alhasil ente harus rela melepas mimpi yang tak bisa ente jangkau ini. Selain kemampuan finansial, kemampuan dari segi fisik dan skill pun bisa mempengaruhi. Pengennya jadi pilot, tapi ente gak bisa mencapai itu semua karena ternyata dinyatakan buta warna.

2. Minat dan ketertarikan berubah

Sebagian orang justru tidak memiliki pekerjaan yang sesuai dengan cita-cita disaat kecil karena seiring berjalannya waktu minat dan ketertarikan mereka berubah.

3. Pengaruh keluarga 

Terkadang bagi sebagian orang, pengaruh keluarga yang cukup dominan bisa mempengaruhi pilihan pekerjaan yang mereka miliki. Misalnya aja cita-cita jadi wirausaha, tapi keluarga justru menentang dan mengarahkan Agan jadi PNS sehingga Agan harus melepas pekerjaan impian ente sendiri.

Catatan :
Taukah kamu gan bahwa ternyata tidak banyak orang yang berhasil bekerja sesuai dengan cita-citanya. Dalam survei yang dirilis oleh Linkedin, disebutkan bahwa ternyata hanya 13 persen profesional muda yang memiliki pekerjaan yang sesuai dengan apa yang mereka impikan di masa kecil. 29 persen responden mengaku bahwa pekerjaan saat ini masih ada kaitannya dengan cita-cita masa kecil mereka. sementara 60 persen mengatakan pekerjaan sekarang sama sekali berbeda dengan impian masa kecil. 

Survei ini dilakukan pada 1000 responden dengan kategori pelajar 16-23 tahun dan profesional muda berusia 25-36 tahun yang memiliki pengalaman kerja dua tahun. Masing-masing kategori berjumlah 500 responden.

(Sumber : https://www.kaskus.co.id/thread/5976e710c2cb1725268b4568/berapa-banyak-sih-orang-yang-bekerja-sesuai-cita-cita/)

Partner Masa depan Anak Muda : RADICAL TALENTS 2019

Masa depan setiap orang adalah satu kepastian. Persoalannya adalah seperti apa pemahaman setiap orang akan kualitas kepastian masa depannya. Sesungguhnya di dalam alam bawa sadar manusia, terkandung pesan masa depan yang pasti baik dan proporsional. Baik dan proporsional memiliki makna bahwa setiap orang memiliki takdir sukses selama hidup. Sekali lagi saya sebut “Takdir Sukses”. Takdir sukses adalah ketetapan untuk menjadi berhasil dalam pencapaian tujuan hidup unik dalam setiap orang.

“The Success Roadmap”, adalah peta perjalanan sejak dalam kandungan sampai kematian seseorang. Sesungguhnya di dalam kandungan Sang Ibu, setiap bayi membawa peta perjalanan sukses. Hal ini tentu belum dipahami dengan sangat baik. Pesan Bijak “Mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya.”adalah ungkapan seorang pemazmur dalam kitab Suci yang cukup membantu untuk mengungkap misteri masa depan yang penuh dengan kepastian untuk setiap orang.

Salah satu alat bantu untuk membongkar misteri sukses setiap orang adalah membongkar keluar “Radical Talents” dalam diri setiap orang. “Radical Talents” atau talenta yang radikal memiliki makna bahwa setiap orang memiliki keunikan diri yang menjadi aset diri untuk meraih takdir sukses menuju masa depan yang pasti. Menemukan, mengenal, menggali, menarik keluar dan melatih serta menggunakan talenta adalah langkah perjalanan sukses panjang namun pasti untuk diraih.

“RADICAL TALENTS” hadir se:bagai Rumah Talenta yang memiliki tiga sistem sederhana yakni

  1. Perspective             : menggali bakat sukses melalui sistem  fotokarakterplus & konsultasi untuk kontruksi                bakat.
  2. Focus                      : menarik keluar kekuatan dan keunikan diri untuk kristalisasi peremajaan bakat
  3. Build up to future : Menyusun peta perjalanan sukses melalui konsultasi dan mentoring berkala dengan berdasarkan hasil penilaian pribadi secara komprehensif dengan teknologi fotokarakter plus.

TARGET : Usia 12 tahun ke atas (twelve year ago above)

Informasi dan reservasi dapat dilakukan melalui formmulir di bawah ini :

FROM 20 TO 65 YEARS OLD : DO YOU LOVE YOUR JOB?

Bekerja adalah potensi dasar manusia. Bekerja dengan mudah (easy), menyenangkan (enjoyful) dan produktif (Productively) adalah dilakukan oleh manusia yang memiliki hasrat yang sangat kuat(passion). Manusia ber-hasrat hati yang sangat kuat akan menciptakan dunia kerja yang bukan sekedar menghasilkan uang , tetapi menciptakan kolam uang bagi banyak orang. Musuh terbesar dalam diri pekerja adalah membenci pekerjaannya. Tapi ironisnya banyak orang karena punya motivasi keuangan , rela bekerja dengan pekerjaan yang dibencinya. Jika hal ini terjadi selama 40 – 50 tahun, apakah yang terjadi dalam diri Anda? Bagaimana dampaknya bagi keluarga Anda? Bagaimana kualitas hidup Anda?

Video ini salah satu nasehat buat kita.

 

Salah satu peluang untuk Anda :

https://insancemerlang7.wordpress.com/business-corner/